Harga Batu Bara Ambruk Lagi, Sahamnya di RI Ikut Berjatuhan

Tambang terbuka Banks Group Shotton di Northumberland, Britain,

Saham emiten batu bara secara mayoritas terkoreksi parah pada perdagangan sesi I Jumat (5/5/2023), di tengah ambruknya kembali harga batu bara acuan dunia kemarin dan beberapa saham sedang dalam masa pembagian dividen.

Per pukul 09:45 WIB, dari 20 saham batu bara RI, hanya satu yang masih mampu menguat dan satu saham cenderung stagnan. Sedangkan sisanya yakni 18 saham terkoreksi, dengan 16 saham terkoreksi parah lebih dari 1% dan dua saham terkoreksi kurang dari 1%.

Saham PT Indika Energy Tbk (INDY) menjadi saham yang paling parah koreksinya pada pagi hari ini, yakni ambles 6,93% ke posisi harga Rp 2.150/saham.

Selain saham INDY, saham PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL) juga ambruk 6,72% ke Rp 6.250/saham.

Keduanya bahkan sudah menyentuh auto reject bawah (ARB). Saham INDY dan MCOL saat ini tengah membagikan dividen tunainya, di mana pada hari ini merupakan periode ex date dividen tunai keduanya di pasar reguler dan negosiasi.

Selain karena beberapa saham batu bara sedang membagikan dividen, ambruknya harga batu bara yang kembali terjadi juga menjadi pemberat saham batu bara pada pagi hari ini.

Pada Kamis kemarin, harga batu bara kontrak Juni di pasar ICE Newcastle ditutup anjlok hingga 6,75% di posisi US$ 170 per ton.

Harga tersebut adalah yang terendah sejak 11 Januari 2022 (US$ 168,1 per ton) atau dalam 16 bulan terakhir atau hampir 1,5 tahun.

Pelemahan kemarin juga memperpanjang tren negatif batu bara yang juga ambruk pada hari sebelumnya, Dalam dua hari terakhir, harga batu bara sudah jatuh 10,7%.

Jatuhnya harga batu bara lebih dalam lagi jika melihat pergerakan sepanjang tahun ini.

Sejak awal 2023, harga batu bara sudah ambruk 56,4%. Bila kita membandingkan dengan harga tertingginya pada 5 September 2022 ((US$ 463,75/ton) maka batu bara sudah ambruk 63%.

Harga batu bara saat ini sangat bertolak belakang dengan setahun lalu di mana harga pasir hitam melonjak akibat pernag dan krisis energi.

Batu bara sempat bertahan lama di level US$ 400 sebelum turun pada awal tahun dan kini harganya kembali ke era sebelum perang dan mendekati pandemi Covid-19.

Harga batu bara sebenarnya sempat melonjak dua pekan lalu setelah gelombang panas menghantam kawasan Asia.

Namun, kenaikan itu hanya sesaat dan batu bara kini kembali melemah karena sejumlah faktor. Di antaranya adalah kenaikan produksi di China dan India, ancaman resesi di Amerika Serikat (AS), serta ambruknya harga sumber energi lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*